Perempuan penghuni wisma prostitusi
terpopuler di metropolis diperlakukan tak lebih sebagai komoditas seks.
Tidak ada perlindungan apa pun untuk mencegah kesewenang-wenangan
tingkah laku para mucikari.
Kisah hidup Sofi (bukan nama
sebenarnya) sehingga terjerembap ke lokalisasi memang agak klise. Gadis
asal Purwodadi, Jateng, tersebut baru dua hari berada di Dolly. Dia
mengaku ditipu pria yang baru dikenal dengan modus hendak dicarikan
kerja.
Menyadari dirinya dijual ke tempat prostitusi, Sofi
gigih mempertahankan kehormatannya. Selama dua hari itu pula dia
mati-matian menolak melayani tamu yang mem-booking-nya. Pintu kamarnya
pun ditutup rapat-rapat.
"Saat kami temukan, dia bersembunyi.
Mengurung diri dan menangis," ujar AKP Arnapi, Kanit IDIK III Reskrim
Polwiltabes Surabaya, yang menggerebek wisma tempat mangkal Sofi di
kawasan Dolly, pekan lalu.
Kepada petugas, gadis 18 tahun
tersebut mengaku sangat bingung. "Tidak tahu ke mana harus mengadu.
Saya seperti terjebak dan tak bisa lari. Mau keluar, selalu diawasi.
Bahkan, untuk membeli sabun di toko yang berjarak 50 meter saja, saya
selalu diikuti," ungkap Sofi yang akhirnya dibebaskan petugas untuk
pulang ke desanya di Purwodadi.
Kendati mengaku tak pernah
dipaksa (misalnya diancam disakiti) untuk melayani tamu, dia tetap
merasa tertekan. Apalagi, keluarga Sofi dari desa yang datang menjemput
pun tak dihiraukan pengelola wisma. "Kami diharuskan menebus Rp 5 juta.
Saya sendiri heran kok tiba-tiba saya dianggap berutang sebesar itu"
ujarnya.
Karena tak punya uang, keluarga Sofi yang masih lugu
itu tak bisa berbuat banyak menghadapi sang mucikari yang dikawal
belasan pria bertampang sangar.
Tapi, Sofi seperti menemukan
cahaya kebebasan pada Rabu (1/3) lalu. Seorang polisi -yang mendapatkan
laporan adanya gadis di bawah umur yang dipekerjakan menjadi PSK
(pekerja seks komersial)- mengetuk kamarnya. Dia kemudian dibawa ke
mapolwiltabes. Keluarganya yang kebetulan masih ada di Surabaya
kemudian langsung membawa si anak gadis tersebut pulang ke desa.
"Menciptakan utang memang merupakan modus yang paling umum digunakan untuk mengikat si PSK untuk tetap bekerja," jelas Arnapi.
Hal
tersebut tidak mengada-ada. Buktinya, ketika polisi menyatakan bahwa si
PSK anak diperbolehkan memilih untuk pulang dijemput keluarga atau
ditampung sementara di beberapa LSM, ke-18 PSK anak tersebut malah
bingung. "Kami kan masih punya utang ke bos," katanya.
Ada-ada
saja cara menciptakan utang itu. Mulai biaya kurir yang membawa mereka
(sebenarnya si PSK membayar ongkos sendiri), mengkreditkan motor,
hingga pembelian baju baru.
"Ini hal biasa di Dolly. Untuk
mengesankan dirinya sukses di kota, beberapa PSK membelikan sesuatu
yang gemerlap kepada keluarganya di desa," ujar Rokim, juga bukan nama
sebenarnya, seorang kasir sebuah wisma di sisi timur Lokalisasi Dolly.
"Peluang"
itu kemudian diendus mucikari yang kemudian menawarkan kredit sepeda
motor. "Sepeda motor itu kemudian dikirimkan ke keluarga," ungkapnya.
Tentu,
untuk hal itu, si mucikari memberikan kredit jangka panjang dengan
keuntungan yang cukup tinggi. "Cicilannya variatif, tapi biasanya Rp
500 ribu selama tiga tahun," jelasnya.
Secara tak sadar, dengan mencicil tiga tahun, PSK kemudian terikat untuk mengabdi ke wismanya selama tiga tahun.
Untuk terus membuat si PSK tetap berutang, kadang si mucikari menyuplai
pakaian baru. Dengan alasan bajunya sudah kusam dan para tamu bosan, si
mucikari kemudian menegur PSK-nya. "Baju kamu sudah jelek, ini pilih
yang baru," kata Arnapi menirukan nasihat mucikari kepada penghuni
wisma.
Tentu, harga baju itu sudah di-mark up. "Baju yang
normalnya Rp 100 ribu-Rp 150 ribu dijual ke PSK Rp 300 ribu-Rp 400
ribu. Memang tak perlu membayar langsung, tapi dicatat sebagai kas
bon," ujarnya.
Bisa dimengerti, jika tak pandai-pandai mengatur
uang, apalagi sering menuruti keinginan juragan untuk belanja ini-itu,
PSK bukannya mendapatkan pemasukan, tapi malah tekor tiap bulan.
Selain
itu, pengawasan melekat selalu diterapkan mucikari kepada PSK-nya.
Seperti kisah Sofi, umumnya gadis "koleksi" wisma selalu diawasi
pegawai wisma.
"Jangankan rekreasi ke Kebun Binatang atau TP
(Plaza Tunjungan, Red), pergi beli peralatan mandi saja selalu
diawasi," tegas Dita, nama samaran, salah seorang di antara 18 PSK yang
"dibebaskan" polisi.
Apa hukumannya apabila nekat minggat? "Wah,
sangat berat, Mas," ujarnya. Kalau tertangkap di sekitar lokalisasi,
mereka bisa diseret di depan umum untuk kembali ke wisma.
Bahkan,
ketika "sukses" melarikan diri dan pulang ke rumah, pengurus wisma tak
segan-segan mengirim orang untuk "mengambil" kembali si PSK.
Apakah
tidak ada perlawanan dari keluarga di desa? Menurut dia, orang desa
pasti takut didatangi beberapa pria bertampang sangar. Sang centeng
bisa menyatakan bahwa PSK itu mangkir dari kerja dan punya utang yang
harus dilunasi. "Keluarganya pasti ketakutan. Dengan mudah, dia (si
PSK) bisa diajak kembali," kata Rokim.
Selain dibawa kembali
ke wisma, sanksi berat menunggu si PSK. Yakni, di-charge (denda) selama
pelariannya. Tidak tanggung-tanggung, karena dianggap mangkir kerja,
ada wisma yang menge-charge hingga Rp 3 juta per hari. "Teman saya ada
yang kena charge Rp 9 juta gara-gara minggat selama tiga hari. Kini,
dia harus kerja keras untuk melunasi utangnya," ungkap Dita.
Belitan
utang itulah yang sering membuat si PSK terus "terjebak" dalam lembah
prostitusi. Menariknya, di antara belasan PSK anak yang "dibebaskan"
polisi, ada seorang yang dianggap pintar mengatur uang. Selama tiga
bulan bekerja, Yuke (juga bukan nama sebenarnya) mendapat penghasilan
bersih Rp 22 juta. "Anaknya memang cantik, tinggi, dan putih. Dan, dari
penyelidikan kami, dia merupakan primadona wisma itu," jelas seorang
sumber di kepolisian.
Menurut catatan pembukuan yang disita
menjadi barang bukti, jumlah tamu yang dilayani semalam bisa membuat
bulu kuduk berdiri. "Dari buku kas itu, rekor Yuke bisa melayani 19
tamu semalam. Tapi, jika dirata-rata, semalam bisa 15 pria hidung
belang yang dilayani," kata Arnapi sembari menggeleng-geleng.
Dengan
persentase pembagian 60 (mucikari) : 40 (PSK), dalam semalam Yuke bisa
meraup Rp 600 ribu-Rp 700 ribu. Ditambah perilaku gadis asal Blitar itu
yang tak suka membeli macam-macam, tak heran, saat pulang dijemput
keluarganya pada Jumat malam lalu, Yuke mengantongi uang bersih Rp 16
juta. "Itu setelah dipotong utang Rp 6 juta ke wisma," ujarnya.
Dengan
modus pengawasan melekat dan menciptakan utang, lumrah Arnapi menyebut
Wisma Dolly telah melakukan eksploitasi manusia besar-besaran. "Seperti
Yuke, dia harus melayani belasan tamu semalam. Efeknya sangat besar,
baik bagi fisik maupun mentalnya," tegas perwira asal Jawa Barat
tersebut.
Untuk fisik, kata dia, efeknya sangat jelas.
"Bagaimana metabolisme tubuhnya, kalau dia harus melayani hingga 19
tamu semalam? Selain rentan penyakit kelamin, kondisi fisiknya pasti
akan menurun drastis," ungkapnya.
(www.jawapos.com)